
JEJAKLANGKAH, BUDAYA – “oket endi sam, wes nakam ta?” “wes lah, ayas mari iki kilab,” yang artinya, darimana mas, Sudah makan kah? Sudah, setelah ini mau balik.
Terdengar percakapan antara beberapa pemuda di
warung kopi, yang sedang beristirahat pada jam kerja tepat persimpangan jalan
Kendalsari, Kota Malang. Perhatian tertuju pada kumpulan beberapa pemuda yang
sedang asik bergurau dengan bahasa yang asing terdengar.
Semakin didengar seriuspun bahasa yang digunakan
kumpulan pemuda yang duduk bergerombol di warung tersebut lain dari bahasa
Indonesia. Rasa penasaran memberanikan bertanya kepada salah seorang dari
kumpulan pemuda yang tidak terlalu mengindahkan dari pembicaraan rekannya.
“Itu sedang berbicara memakai bahasa apa mas?,”
tanya Nusantara.news kepada Agus
Handoyo pria 32 tahun tersebut
“Oh itu bahasa malangan, biasa disebut bahasa walikan atau ‘Osob Kiwalan’ bahasa daerah asli malang.” sahut Agus
Ia sekilas menjelaskan terkait bahasa daerah
malangan yang menjadi identitas khas warga Malang “Bagi masyarakat Malang,
siapa yang tak tahu budaya ‘Osob Kiwalan’
atau dalam artian Boso
walikan/Bahasa terbalik. Bahasa tersebut sudah digunakan dari zaman penjajahan
dahulu,” pungkas pria berambut cepak tersebut
Osob
kiwalan telah menjadi identitas bagi masyarakat malang, yang
merupakan salah satu sarana komunikasi dengan sesama masyarakat malang, dengan
bacaan yang terbalik. Misalnya, bakso menjadi Oskab, saya dan kamu menjadi Ayas
lan Umak, anak malang menjadi Kera
Ngalam.
Agus Handoyo merupakan salah seorang warga asli
Malang, yang bekerja sebagai karyawan swasta, selain itu ia tertarik pada ragam
kebudayaan yang ada di Malang. Ia menjadi pemerhati kebudayaan, mulai dari
lukisan, patung, topeng, bahasa dan ragam seni lainnya yang menjadi identitas
budaya Malang.
Ia kembali menjelaskan bahwa osob kiwalan tersebut tidak memiliki aturan khusus dalam
penggunaannya, asalkan gampang diucapkan dan enak didengar sudah menjadi
kecukupan bagi bahasa ini.
Lain halnya dengan basa walikan khas Jogja, yang menggunakan aturan khusus dalam
susunan huruf aksara jawa. Membedakan dengan bahasa walikan yang lain, osob kiwalan memiliki cara yang simpel
dan tidak terikat pada suatu bahasa tertentu. Tradisi pengucapan yang dilakukan
secara turun temurun telah membuat osob
kiwalan ini menyebar kemana-mana.
Awal
Kemunculan sebagai Siasat Perjuangan Rakyat
Awalnya kemunculan bahasa yang unik tersebut,
apabila menilik pada buku Malang Tempoe Doeloe karya Dukut Imam Widodo, jauh
sebelum kemerdekaan, lebih tepatnya masa gerilya kemerdekaan hingga peperangan
dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Suyudi Raharno, salah seorang Pahlawan Nasional yang
berjuang mempertahankan kemerdekaan pada akhir Maret 1949, dalam serangan
agresi militer belanda yang tidak mengakui sepenuhnya bahwa Indonesia telah
merdeka. Serangan agresi militer sekutu tersebut dikenal sebagai Clash I dan Clash II menyerang di beberapa titik daerah di Indonesia.
Kala itu, Belanda banyak menyusupkan mata-mata pribumi
di dalam kelompok pejuang pertahanan kemerdekaan di Malang. Mata-mata tersebut
banyak yang mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah dengan tujuan menyerap
informasi dari kalangan pejuang Gerakan Rakyat Kota (GRK).
Mendengar informasi tersebut, tak membuat Suyudi
Raharno sebagai salah satu Front GRK gentar. Bersama rekannya Wasito, ia menyusun
siasat dan strategi untuk menjaga informasi dalam internal pasukan dengan membuat
suatu tata bahasa dalam lingkar pejuang kemerdekaan di Malang. Hal ini
digunakan sebagai sandi untuk berkomunikasi dengan rekan seperjuangan,
sekaligus dapat membedakan mana pribumi yang menjadi penyusup dalam perjuangan.
Kata pertama yang keluar dari mulut para anggota GRK
saat itu adalah ‘nolo’, yang merupakan sandi kata untuk menyebut pasukan
Belanda. Masyarakat Malang saat itu menyebut pasukan Belanda sebagai ‘londho’.
Kosa kata ‘londho’ apabila dibalik menjadi ‘odhnol’, dan kata tersebut tidak
enak didengar di telinga, oleh karena itu para anggota GRK sepakat menyebut
pasukan belanda sebaga ‘nolo’ (dengan membalik susunan frase ‘odh-nol’ menjadi
‘nol-odh’, dan disempurnakan menjadi ‘nolo’).
Selain itu, banyak lagi beberapa kosa kata yang
disepakati guna penyebutan dalam fase-fase gerilya mempertahankan kemerdekaan
di Malang. Penggunaan osob kiwalan
terbukti efektif menjadi sisasat perjuangan rakyat melawan pasukan Belanda,
pengelabuhan informasi dengan sandi bahasa yang diciptakan sendiri oleh pejuang
kemerdekaan.
Pasukan Belanda kesulitan untuk menghadang langkah GRKdan
minim mendapatkan informasi, hingga akhirnya Malang dapat direbut kembali oleh
pasukan TNI dan Gerakan Rakyat Kota. Sekutu pun diusir dan ditumpas dengan
perjuangan gerilya GRK.
Pengamat sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM),
Dwi Cahyono menjelaskan tentang pemakaian Osob
Kiwalan ”Sudah lama menjadi sandi-sandi khusus para pejuang untuk berkomunikasi
dengan para pribumi. Berawal dari usaha pejuang rakyat Malang dalam
mempertahankan kemerdekaan, sekarang bahasa walikan akrab digunakan oleh
masayarakat untuk berkomunikasi dan bergaul,” jelasnya
Hal ini yang kemudian menjamur dan biasa dipergunakan
dalam pergaulan sehari-hari warga Malang dalam berkomunikasi, baik mulai anak
muda hingga orang tua. Seperti sekelompok pemuda yang bergurau di warung kopi
hingga hari menjelang senja.
Tak terasa mendengarkan sekaliber penjelasan dari
warga asli Malang tersebut megenai bahasa khas yang awal mula kemunculannya
dipergunakan sebagai siasat perjuangan rakyat dalam melawan penjajah.
___________
Sinergy Aditya Airlangga
Bachelor Public Adminstration - Brawijaya University
Journalist of Nusantara.news Media
+62 | sinergyadityaa@gmail.com
___________
Sinergy Aditya Airlangga
Bachelor Public Adminstration - Brawijaya University
Journalist of Nusantara.news Media
+62 | sinergyadityaa@gmail.com
Comments
Post a Comment