![]() |
| D.N Aidit dan Soetarni Njoto (Kacamata) (Sumber: LIFE) |
JEJAKLANGKAH, UMUM – Pembahasan kali ini merupakan cuplikan pemaparan materi kuliah Njoto di depan Universitas Rakyat, Jakarta, 19 Desember 1958, tentang Marxisme sebagai Ilmu. Marxisme kini dianggap tabu oleh bagi kalangan masyarakat Indonesia apalagi pada Rezim Orde Baru (Orba). Hal tersebut ditegarai kejadian G30S yang menganggap Partai Komunis Indonesia (PKI) berkhianat ingin mengkudeta pemerintahan.
Hal tersebut memakan banyak korban jiwa baik dikalangan santri, masyarakat sipil, dan militer. Mulai saat itu ajaran marxisme, komunisme, leninnisme dan sejenisnya dianggap ajaran terlarang di Indonesia yang dianggap bertentangan dengan Pancasila dan agama.
Melalui Ketetapan Majelis Permusyawaratan Sementara Republik Indonesia (MPR-S RI) No. XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai Organisasi terlarang diseluruh wilayah negara Indonesia dan larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Lenninisme. Hal tersebut ideologi marxisme dan komunisme dianggap haram di negara Indonesia.
Namun, secara kajian akademis dan intelektual tak ada salahnya kita mempelajari pengetahuan tersebut karena apabila kita penutup diri dan pandangan maka keluar dari maksud pendidkan yang terbuka dan otonomi pendidikan.
Berikut paparan ini tidak mempunyai pamrih untuk
membentangkan marxisme dan sifat ilmiah marxisme secara luas, apalagi secara
lengkap. Hal ini juga tidak mungkin, karena untuk ini marxisme itu terlalu
luas, sedang ruang kita terlalu sempit; juga pengetahuan saya tentang marxisme
masih terbatas.
Jadi, paparan ini bersifat hanya dan semata-mata
sebagai introduksi, sebagai pengantar.
Baiklah saya mulai dengan suatu salah paham. Masih
saja ada orang yang mengira bahwa marxisme itu hanyalah suatu ajaran politik.
Kurang lebih 20 tahun yang lalu, jadi sebelum Perang Dunia II, sebuah majalah
katolik berbahasa Perancis, Archives de Philosophie,
1) Menulis tentang marxisme
sebagai berikut:
“Suatu pandangan yang sempit akan memberikan suatu
tinjauan yang palsu dan sesat. Marxisme bukanlah suatu cara dan rancangan
pemerintahan saja, juga bukan suatu pemecahan teknis untuk masalah
perekonomian, bukan pula suatu pendirian yang bolak-balik atau suatu semboyan dalam
suatu pidato yang mengharukan. Ia menyebutkan dirinya suatu tafsiran yang luas
tentang manusia dan sejarah, tentang makhluk dan masyarakat, tentang alam dan
Tuhan; suatu sintesis umum, menurut teori dan praktek, pendek kata, suatu
sistem yang menyeluruh.”
Demikianlah, pengakuan majalah katolik tersebut
bahwa marxisme adalah “suatu sistem yang menyeluruh,” hakikatnya sama benar
dengan yang dikatakan Lenin bahwa itu “komplit dan harmonis.”
2) Mengapa Lenin mengatakan bahwa marxisme itu “komplet
dan harmonis”?
Karena marxisme “memberi jawaban pada masalahmasalah yang sudah
diajukan oleh ahli-ahli pikir manusia yang terkemuka.”
3) Seperti kita semua tahu, ahli-ahli pikir umat
manusia sudah sejak beribu-ribu tahun yang lalu mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang bersifat fundamental, bersifat pokok sekali.
Misalnya, salah satu di antara pertanyaan-pertanyaan mereka itu ialah, “Apakah
keadilan itu?” Marxisme menjawab pertanyaan ini dengan merumuskan bahwa
keadilan ialah suatu keadaan di mana penghisapan atas manusia oleh manusia
tiada lagi.
Jawaban marxisme tidak berhenti pada perumusan teori ini.
Marxisme juga menunjukkan jalan bagaimana mencapai keadilan itu. Yaitu: melalui
revolusi sosialis mendirikan masyarakat yang tidak berkelas. Marxisme juga
tidak berhenti di sini. Marxisme, melalui revolusi Rusia tahun 1917,
menyelenggarakan keadilan itu di dalam praktek yang senyatanya.
Pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya seperti
misalnya, “Apakah kemerdekaan itu?”, “Apakah kebenaran itu?,” “Apakah tujuan
hidup yang semulia-mulianya?,” dsb., juga dijawab secara yang sama, yaitu:
dibeberkan hakikatnya, ditunjukkan jalan mencapainya, dan diselenggarakan di
dalam praktek.
Hal ini, jika ditinjau dari lahirnya karya Marx dan
Engels Manifes Partai Komunis,4) sudah berlangsung 110 tahun, sedang jika
ditinjau dari lahirnya negara sosialis yang pertama, yaitu Republik Soviet,
sudah berlangsung 41 tahun.
Ensiklopedia Indonesia yang diterbitkan di bawah
pimpinan redaksi Prof. Dr. Mr. T.S.T. Mulia sampai menerangkan begini:
“Di masa sekarang Marxisme adalah teori yang penting
sekali artinya: kurang lebih sepertiga dari dunia kita sekarang merupakan
masyarakat yang berdasarkan ideologi marxisme… selain dari itu sebagian besar
dari gerakan-gerakan kaum buruh di Eropa dan Asia berupa partai-partai politik
dan serikat sekerja yang berpegang pada ajaran-ajaran marxisme.”
5) Kita, yang sudah menjadi biasa oleh keadaan
Di mana
sudah ada 33 juta orang marxis di dunia dan di mana sosialisme sudah tegak dari
tepi sungai Elbe di Jerman sampai ke tepi sungai Jalu di Korea, kita terkadang
sudah tidak memikirkan lagi bagaimana semua ini bisa terjadi. Tetapi kalau
orang memikirkan bagaimana semua ini bisa terjadi, orang pun biasanya tidak
bisa membebaskan diri dari rasa heran.
Orang komunis, yang tadinya hanya dua–yaitu Karl
Marx dan Friedrich Engels–sekarang sudah menjadi 33 juta, dan sosialisme yang
tadinya tidak ada sama sekali, sekarang sudah tegak dari Elbe sampai ke Jalu!
Lagi pula, sosialisme itu sudah mencapai hasil-hasil yang demikian majunya,
sehingga mendapatkan pengakuan di mana-mana.
Seperti diakui oleh Menteri Muh.
Jamin, balet yang terbaik di dunia adalah balet Soviet. Dari Olimpiade di
Melbourne, Soviet ke luar sebagai pemenang pertama. Juara catur sedunia, kali
ini Smislov, kali lain Botwinnik, kedua-duanya orang Soviet. Ketika baru-baru
ini sebuah juri internasional memilih film yang terbaik sepanjang jaman,
pilihan jatuh pada film “Pacomkin,” film karya sutradara Soviet Eisenstein.
Di lapangan pendidikan, seperti diakui oleh Allan
Dulles, Soviet menghasilkan setiap tahunnya empat kali lebih banyak insinyur
daripada Amerika Serikat. Di lapangan militer, yang menemukan bom hidrogen
pertama dan peluru balistik antar-benua pertama adalah Soviet. Di lapangan
ilmu, satelit buatan yang pertama kali berhasil adalah sputnik-sputnik Soviet.
Sekarang produksi pertanian, terutama padi-padian, yang tertinggi di seluruh
dunia dilahirkan oleh sawah Tiongkok.
Semua ini tentu membuat orang berpikir, sekalipun
seseorang tidak suka pada marxisme. Mungkinkah semua ini terjadi seandainya
marxisme itu bukan suatu ilmu?
Di dalam kehidupan ilmiah, teori itu selalu
menempati kedudukan yang sangat penting. Tetapi jika sesuatu teori tidak teruji
oleh praktek, apalagi jika sesuatu teori itu bertentangan dengan praktek,
apalah harga teori semacam itu. Tentang hal ini Prof. Tjan Tjusom mengatakan di
dalam Kuliah Umum-nya dua pekan yang lalu:
“Akal saja belum cukup untuk mewujudkan ilmu pengetahuan.
Seharusnya akal itu bersandar kepada fakta-fakta, yakni kepada
kenyataan-kenyataan yang ada di luar kita–baik yang bersifat kebendaan maupun
kejadian-kejadian–yang semuanya tidak bergantung dari cita-cita kita saja dan
yang kenyataannya dapat disaksikan dan dibuktikan juga oleh orang-orang lain.
Faktafakta inilah yang harus menentukan apakah cara kerja akal kita betul atau
salah, yang harus membuktikan bahwa akal kita tidak hanya bekerja dengan
sembarang saja.”
6) Fakta-fakta sosialismelah yang sekarang memberikan
pembenarannya atas teori sosialisme, atas teori marxisme.
Untuk memberikan pelukisan yang lebih jelas tentang
sifat ilmiah marxisme, saya ingin mengemukakan cara kerja pencipta marxisme,
yaitu Karl Marx, yang tahun ini kebetulan kita peringati ulang tahun yang
ke-140 dari lahirnya dan ulang tahun yang ke-75 dari hari wafatnya. Tidak
mungkin Marx sampai pada kesimpulankesimpulan yang ilmiah, sekiranya cara
kerjanya tidak ilmiah.
Friedrich Engels, sahabat Marx yang paling akrab dan
pencipta serta ajaran marxisme, pernah mengatakan begini: “Sebagaimana Darwin
menemukan hukum perkembangan alam organik, demikian pula Marx menemukan hukum perkembangan
sejarah manusia.”
7) Pembandingan Marx dan Darwin
Ini kiranya tidak bisa
kita lakukan begitu saja. Dan sesungguhnya, banyak hal-hal yang menarik dalam
hubungan kedua orang jeni ini.
Marx dan Darwin hidup sejaman. Pada tahun 1848 Marx
bersama-sama Engels menyelesaikan karya mereka yang termashur, Manifes Partai
Komunis, dan sepuluh tahun kemudian Darwin menyelesaikan karyanya yang besar
The Origin of Species. Kemudian Marx menyelesaikan bukunya Das Kapital.
Buku-buku ini sudah dibaca oleh berpuluh-puluh juta orang dan beratus-ratus
juta orang lagi masih akan membacanya, tanpa seorang pun yang sanggup dan yang
perlu mengadakan perubahan, karena isi dari buku-buku itu adalah kebenaran ilmiah.
Darwin dan Marx bekerja dengan syarat yang
berbeda-beda: Darwin berada, Marx melarat. Darwin dan Marx juga bekerja di
lapangan yang berbeda-beda: Darwin menyelidiki dunia tumbuhtumbuhan dan dunia
hewan. Marx menyelidiki dunia manusia. Tetapi kedua-duanya sampai pada
kesimpulan yang pada pokoknya sama mengenai perkembangan dan hukum
perkembangan. Darwin menamakan buku Marx Das Kapital itu mengolah “soal yang
dalam dan penting,”
8) Sedang Marx–yang bukannya tidak mempunyai kritiknya
terhadap Darwin
Darwin menganggap buku Darwin “sangat penting dan membantu saya
sebagai dasar ilmu alam bagi perjuangan kelas di dalam sejarah.”
9) Bagaimana Marx dan Darwin sampai pada
kesimpulan-kesimpulan yang bagitu penting dan begitu tinggi mutu kebenarannya?
Mereka sama-sama menempuh cara kerja yang ilmiah,
yang seperti dikatakan Marx selalu mempunyai lima tingkatan:
1. penyelidikan,
2. percobaan, atau eksperimen,
3. pencatatan,
4. perenungan, dan
5. penyimpulan, atau penggeneralisasian.
Marx adalah benar-benar seorang sarjana. Seperti
juga Darwin, Marx adalah seorang orang bibliotek, seorang orang laboratorium.
Tetapi sedangkan Darwin boleh dikatakan hanya seorang orang bibliotek dan hanya
seorang orang laboratorium, dari mana dia menyusun teorinya yang besar tentang
evolusi, Marx adalah sekaligus seorang orang dari bibliotek dan laboratorium
yang lebih luas lagi, dari bibliotek masyarakat, dari laboratorium masyarakat.
Marx bukan hanya seorang sarjana, dia seorang pemimpin revolusioner, yang
seperti dikatakannya sendiri, tidak puas dengan hanya menafsirkan dunia, tetapi
menafsirkan dunia dan merombaknya.
10) Mengenai ilmu dan sarjana
Marx selalu mengatakan: “Ilmu tidak boleh menjadi kesukaan diri sendiri.
Mereka yang beruntung mampu mencurahkan dirinya kepada pengudian ilmu, harus
yang pertama-tama menempatkan pengetahuan mereka untuk mengabdi umat manusia.
Bekerjalah untuk umat manusia.”
11) Hasil Keilmuan dan Kebermanfaatan
Kata-kata Marx ini kiranya tidak memerlukan
penjelasan apapun. Marx tentu mempunyai kebahagiaannya di dalam pekerjaan
ilmiahnya, bahkan, jika ia menemukan kesimpulan-kesimpulan dari hasil
penyelidikannya, kegembiraan ini, kebahagiaan ini, bukan karena dia mengudi
ilmu, melainkan karena dia mengudi ilmu untuk umat manusia.
Untuk kepentingan pekerjaan ilmiahnya, Marx
mempelajari sejumlah cukup banyak bahasa, lebih daripada cukup barangkali,
untuk seseorang pada umur dia ketika itu. Dia bisa mengarang dalam bahasa
Jerman, bahasa Inggris dan bahasa Perancis dengan sama bagusnya dan sama
bersihnya dalam tata bahasa.
Tentang bahasa-bahasa yang dia pahami: dia membaca
Dante dalam bahasa Italia dan membaca Demokritos dalam bahasa Yunani, dia
mengerti bahasa Belanda dan bahasa Hongaria, bahasa Denmark dan bahasa Spanyol.
Dan ketika dia berusia 50 tahun, dia merasa masih cukup muda untuk mulai mempelajari
bahasa Rusia, dan enam bulan kemudian dia sudah pandai menikmati syair-syair
Pusykin dan novel-novel Gogol dalam bahasa aslinya. “Bahasa asing,” kata Marx, “adalah senjata dalam
perjuangan hidup.”
12) Buku sebagai Alat Juang
Selain bahasa, juga buku–sudah tentu–menjadi senjata
Marx dalam pekerjaan dan perjuangan hidupnya. Tidak jarang dia kurang makan
roti, tetapi tidak pernah dia kurang makan bacaan. Bukunya di rumah cukup
banyak, buku-buku yang dia himpun dengan teliti selama beberapa puluh tahun.
Tetapi, kemana saja dia datang, ke Berlin atau London, ke Amsterdam atau Paris,
banyak sekali dia menggunakan waktu untuk “menjelajahi” isi bibliotek dari
museum-museum di kota-kota tersebut. Ada sarjana-sarjana yang hampir-hampir menjadi
budak dari buku. Marx lain sama sekali. Dia pernah mengatakan begini: Buku
“adalah budakku, dan dia harus mengabdi aku sekehendakku.”
13) Buku untuk para Pekerja
Inilah sebabnya
mengapa Marx tidak menyusun buku-buku di dalam lemari bukunya menurut ukuran
besarnya atau ukuran tebalnya, juga tidak menurut serinya, melainkan menurut
isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya.
Barang siapa membaca kumpulan karangan Marx, tahulah
dia bahwa Marx bukan hanya besar perhatiannya pada soal-soal masyarakat, tetapi
juga besar perhatiannya pada soal-soal ilmu alam pada umumnya, pada matematika,
pada biologi. Tetapi sebagian sangat terbesar dari waktunya digunakannya untuk
penyelidikannya di lapangan ekonomi. Karya utamanya yang menumental itu, Das
Kapital, adalah hasil pekerjaan selama empatpuluh tahun.
Ada baiknya kalau saya mencatat di sini sumbangan
Indonesia pada kelahiran Das Kapital. Kalau karya utama Darwin Origin of
Species mendapatkan di antara bahan-bahannya yang penting laporan mengenai
fauna dan flora Maluku, Das Kapital Marx mendapatkan bahan-bahannya pula dari
pengisapan VOC di Maluku dan dari susunan desa di Jawa dan Bali.
14) Marx seorang yang Jenius, Siapa sangka?
Demikianlah beberapa gambaran dari kehidupan ilmiah
dan dari cara kerja ilmiah Karl Marx. Banyak yang sudah dikatakan tentang Marx
dan masih banyak yang bisa dikatakan tentang Marx. Satu hal tidak ingin saya
melangkauinya: bahwa Marx itu seorang jenius kiranya tak ada yang
menyangsikannya; yang perlu dicatat ialah bahwa jeniulitasnya itu bukan
“bisikan wahyu,” melainkan hasil dari pekerjaan yang luar biasa, keuletan,
ketekunan, ketelitian dan ketajaman otak.
Untuk mengakhiri penggambaran tentang cara kerja
ilmiah Marx, baiklah saya kutip apa yang dikatakan oleh Paul Lafargue tentang
dia: “Tidak hanya dia tidak akan mendasarkan diri pada
fakta yang belum sepenuhnya diyakininya, dia tidak akan memperkenankan dirinya
berbicara tentang sesuatu sebelum dia mempelajarinya dalam-dalam. Dia tidak
pernah menerbitkan satu pun karya dengan tidak berulang-ulang meninjaunya
kembali sampai dia menemukan bentunya yang setepat-tepatnya. Dia tidak pernah
muncul di depan umum tanpa persiapan secukupnya.”
15) Marxisme sebagai Ajaran Politik
Kembali saya sekarang kepada salah paham yang saya
sebutkan pada awal paparan ini. Mengapa marxisme itu tidak tepat jika dianggap
sebagai ajaran politik saja? Mengapa marxisme itu dikatakan suatu siatem yang
menyeluruh, yang lengkap dan harmonis?
Marxisme mempunyai tiga bagiannya yang tidak
terpisah-pisahkan satu sama lain. Yaitu ajaran-ajaran tentang: ekonomi politik,
falsafat dan sejarah.
Ekonomi politik marxis, seperti umum tahu, bersumber
pada ajaran-ajaran ekonomi politik klasik Inggris, terutama dasar-dasar teori
nilai kerja yang diletakkan oleh Adam Smith dan David Ricardo. Berpegangan pada
dan melanjutkan secara konsekuen teori ini, sambil menyelidiki “hukum gerak
ekonomi masyarakat modern,”
16) Batu pertama Teori Ekonomi
Marx sampai pada kesimpulannya yang menjadi
“batu pertama teori ekonomi Marx,”, dimana pelayangan kritik atas realitas empiris yang terjadi dilapangan yakni determinasi ekonomi yang berdampak masyarakat, atas kebijakan ekonomi yang dinilai kurang berpihak.
17) Teori Nilai Lebih
Teori nilai lebih yakni baru
pertama inilah Marx membangun teorinya bahwa krisis umum kapitalisme itu tak
terhindarkan, bahwa kapitalisme itu di dalam dirinya sendiri “mengandung dan
menyimpan satu hukuman mati,”
18) Kapitalisme sebaga akar permasalahan
dan bahwa mau tak mau sistem kapitalisme harus
menyingkir dari panggung sejarah untuk memberikan tempat pada sistem yang baru,
yaitu sosialisme.
Revolusi sosialis, mula-mula di Rusia, kemudian di
Eropa Timur, dan yang terakhir di Tiongkok, adalah pembenaran yang sediladilnya
dari teori marxis. Ketika Das Kapital baru saja terbit, penerbitnya membayar
honorarium yang begitu kecilnya kepada Marx sehingga kata Marx sendiri honorarium
itu tidak cukup buat membeli rokok yang diisapnya selama dia menyelesaikan Das
Kapital.
Sekarang Das Kapital sudah “dibayar” secara seadil-adilnya, karena
tidak kurang dari sejarah sendiri yang membayar honorarium–berupa sosialisme
yang meliputi seribu juta penduduk dunia!
Ada sekarang orang mengatakan bahwa ekonomi politik
marxis itu memang sesuai untuk “kapitalisme klasik” tetapi tidak cocok lagi
untuk “kapitalisme jaman sekarang.” Tentu, kapitalisme itu tidak mandek saja.
Sekarang ada “kapitalisme kerakyatan,” “kapitalisme terorganisasi,”
“kapitalisme berencana” dan entah kapitalisme-kapitalisme apa lagi.
Tetapi satu
hal sebetulnya tidak berubah, yaitu: dia tetap kapitalisme. Kita cukup membaca
suratsurat harian, maka kita bacalah hampir saban hari: Amerika terkena resesi,
pengangguran meningkat, harga-harga naik, upah riil merosot–tidakkah semua ini
membuktikan bahwa marxisme tetap benar?
Sejarah bukan meralat, tetapi
memperkuat marxisme. Lawan marxisme mencoba menggambarkan bahwa marxisme “dulu
ilmiah, sekarang tidak lagi ilmiah.” Tetapi jalannya sejarah membuktikan bahwa
bukan marxisme yang sudah tidak ilmiah lagi, melainkan bantahan-bantahan
mereka. Ada lagi yang mengatakan bahwa marxisme itu “hanya cocok buat Eropa,
tidak buat negeri-negeri lain.” Baiklah saya singkat saja: apakah Vietnam,
Korea, Mongolia dan Tiongkok itu Eropa?
Satu lagi ingin saya singgung dalam saya
membicarakan ekonomi politik marxis ini, yaitu apa yang selalu disebut oleh
penceramahpenceramah bukan marxis. Mereka itu selalu mengatakan bahwa salah
satu bagian yang penting dari “teori marxisme” ialah apa yang mereka sebut
“teori Verelendung,” “teori pemelaratan.” Dengan ini mereka mencoba
menggambarkan bahwa kaum marxis itu “gandrung kemelaratan,” karena dari
“kemelaratan”-lah akan lahir kemenangannya.
Bahwa hari depan itu miliknya “kaum
melarat” dan bukan miliknya “kaum kaya,” “kaum kapitalis,” ini tak perlu
dipersengketakan. Tetapi kaum marxis “gandrung kemelaratan”?
Kita cukup
mengingat bahwa yang membela kenaikan-kenaikan upah, yang membela perbaikan
nasib pada umumnya, baik bagi kaum buruh, kaum tani maupun kaum pekerja
lainnya, adalah tidak lain daripada kaum marxis, dan bahwa lawan-lawan marxisme
biasanya menentang perbaikan-perbaikan nasib itu, sehingga yang disebut “teori
Verelendung” itu lebih mengenai mereka daripada mengenai kaum marxis.
Mengenai filsafat marxisme, seperti diketahui,
bersumber pada filsafat klasik Jerman yang mencapai puncaknya pada dua nama:
Hegel dan Feuerbach. Sumbangan Hegel yang terpenting adalah sistem
dialektikanya, yang karena berdiri di atas landasan yang idealis, telah
dirombak oleh Marx dan ditegakkan di atas landasan yang sebaliknya, yaitu
materialisme. Sedang sumbangan Feuerbach yang terpenting adalah kritiknya
terhadap idealisme Hegel. Tetapi Feuerbach sendiri, yang materialis dalam
pendekatannya pada gejala-gejala alam, masih seorang idealis dalam konsepsinya
mengenai gejala-gejala sosial, gejala-gejala masyarakat. Sesudah hal ini pun
dirombak oleh Marx, maka seperti dikatakan oleh Friedrich Engels “idealisme
diusir dari tempat pengungsiannya yang terakhir, yaitu filsafat sejarah.”
19) Filsafat Marxis yang Universal
Filsafat marxis adalah universal, karena ia berlaku
baik bagi pendekatan pada gejala-gejala alam, pada masyarakat, dan pada alam
pikiran.
Ada yang menyangsikan apakah filsafat marxisme itu
memang meliputi juga filsafat alam.
Dutabesar Indonesia di Moskow, Mr. Alexander Maramis
mengatakan kepada saya setengah tahun yang lalu, bahwa ilmu di Uni Soviet itu
maju, lebih maju daripada di dunia Barat. Pembuktian untuk hal ini tidak
diperlukan, karena ketika kami bercakap-cakap, Sputnik III baru saja
diluncurkan. Orang pun tentu berpikir: mengapa ilmu, ilmu alam maupun ilmu
sosial di Uni Soviet lebih maju daripada di Barat? Kalau saya diminta menjawab:
karena sarjana-sarjana di Uni Soviet berpikir dengan metode materialisme
dialektik dan historis, dengan filsafat marxis.
Sekarang mengenai ajaran marxisme tentang sejarah.
Seperti diketahui, ia bersumber pada sosialisme khayali seperti yang diwakili dalam
tulisan-tulisan Simon, Fourier dan Owen.
Kalau sosialisme khayali mendambakan sosialisme
dengan jalan dan cara yang tidak menjamin datangnya sosialisme, misalnya dengan
jalan mendirikan “koloni-koloni,” dengan mengumpulkan “dana-dana” dari kaum
kapitalis, dsb., sosialisme marxis menunjukkan hukum perkembangan kapitalisme
dengan menunjukkan bahwa perjuangan kelas lah motor atau lokomotif dari
sejarah, dan oleh sebab itu gerakan revolusioner kelas buruh adalah
satu-satunya jalan menuju ke sosialisme.
Baiklah saya ambil satu contoh bagaimana orang bisa
memandang jauh ke muka, jika filsafat dan konsepsi sejarahnya filsafat konsepsi
sejarah marxis. Di tahun 1913, ketika pemuda-pemuda kita tidak sedikit yang
berorientasi ke Barat dan belajar ke Barat, Lenin mengatakan: “Eropa yang
terbelakang dan Asia yang maju.”
20) Jalan Lennin
Katakata Lenin ini tentu saja, ketika itu,
terasa seperti orang yang berenang melawan arus di sungai yang deras. Sudah
empatpuluh lima tahun berlalu sejak kata-kata Lenin itu, dan apa kenyataan dunia
kita sekarang? Eropa yang maju dan Asia yang terbelakang ataukah Eropa yang
terbelakang dan Asia yang maju? Sejarah memang berjalan menurut hukum
dialektik: Eropa yang tadinya maju, sudah berbalik menjadi terbelakang, dan
Asia yang terbelakang, sudah berbalik menjadi maju. Dulu, imperialisme
mengobrak-abrik negeri-negeri Asia, sekarang kebangkitan Asia yang
mengobrak-abrik imperialisme! Inilah yang dikatakan oleh Mao Zedong: “Angin
Timur mengalahkan angin Barat.”
21) Marxisme dan Lenninisme
Dan ini sudah diramalkan oleh Lenin empatpuluh
lima tahun yang lalu. Tetapi tidak ada ramalan bisa terwujud, jika ramalan itu
bukan ramalan ilmiah. Demikianlah, dengan singkat dan bersahaja saya telah
mencoba memaparkan beberapa pokok teori dan praktek marxisme sebagai ilmu.
Untuk menyimpulkan paparan yang seperti saya katakan
di muka tadi tidak punya pamrih untuk merupakan lebih daripada suatu introduksi
belaka, saya akan memberikan definisi atau batasannya apa marxisme itu, atau
seperti yang sekarang dikenal di manamana, sosialisme ilmiah atau
marxisme-leninisme.
Marxisme-leninisme adalah: “ilmu tentang hukum
perkembangan alam dan masyarakat, tentang revolusi massa tertindas, tentang
kemenangan sosialisme, tentang pembangunan masyarakat komunis.”
22) Bermacam Sarjana
Makin hari makin banyak sarjana-sarjana,
sarjana-sarjana borjuis sekalipun, yang memahami sifat ilmiah marxisme,
walaupun tidak semua mereka menerima dan menyetujuinya. Meskipun demikian, di Indonesia dewasa ini kita
melihat kenyataan, bahwa marxisme sebagai ilmu bukan saja tidak diajarkan di
sekolah-sekolah tinggi; kita masih ingat kenyataan, bahwa ada guru-guru besar
yang menyebut nama Marx pun segan.
Kita menjumpai buku-buku pelajaran filsafat,
tanpa menyebut nama Marx sedikit pun, atau kita menjumpai buku-buku ekonomi,
yang kalaupun menyebut Marx menyebutnya dalam lima atau sepuluh baris saja.
Barangkali yang dirugikan oleh hal ini pertama-tama bukan marxisme, melainkan
kemajuan ilmu keseluruhannya. Untuk menembus keadaan ini pulalah kiranya
mengapa didirikan “Universitas Rakyat” dan mengapa salah satu mata pelajarannya
yang pokok adalah Ekonomi Politik Marxis.
Mereka-mereka yang tidak mengakui marxisme itu suatu
ilmu biasanya mencoba memerosotkan marxisme dengan menyebutnya “suatu dogma.”
Terhadap sebutan ini saya tak usah mengajukan bantahan
marxis, dan bantahannya yang nonmarxis akan saya pinjam dari Jawaharlal Nehru
yang mengatakan dalam otobiografinya sebagai berikut: “Seluruh nilai marxisme
dalam pendapat saya terletak dalam ketiadaannya akan dogmatisme, dalam
tekanannya pada pandangan dan cara pendekatan tertentu, dan dalam sikapnya
untuk beraksi.”
23) Pertautan dunia Perfilman
Di dalam bukunya yang lain, The Discovery of India,
Nehru menulis: “Suatu studi tentang Marx dan Lenin melahirkan pengaruh yang
megah pada pikiran saya dan membantu saya untuk memandang sejarah dan
masalah-masalah dewasa ini dalam sorotan baru.”
24) Marxisme Sebenarnya
Yang lain lagi yang tidak mengakui marxisme sebagai
ilmu menuduh marxisme itu tidak obyektif, tidak bertolak dari obyektivitas, dan
mulai dengan “dalil-dalil yang à priori” itu.
Perkenankanlah saya sekarang meminjam ucapan
Presiden Sukarno, yang pada 5 Juni tahun ini menyatakan: “Marxisme yang
sebenar-benarnya, berdiri di atas analisis-analisis yang obyektif.”
25) Marxisme sebagai Ideologi Pembebasan
Dengan mengingat kata-kata Bung Aidit bahwa “Berkat
ajaran-ajaran Marx, kita generasi sekarang makin dekat pada kebebasan seluruh
umat manusia,” pembebasan atas manusia dengan manusia. Pembebasan dari keterhisapan manusia dengan manusia yang dikuasai oleh kapital dan pemilik modal.
26) Sosialisme sebagai Ilmu
dan dengan mengingat pesan Friedrich Engels bahwa “Sejak
sosialisme menjadi ilmu, dia pun harus diperlakukan sebagai ilmu pula, yaitu
dipelajari,” Jangan kemudian dianggap suatu hal yang tabu. demi kekayaan intelektual, dan otonomi keilmuan dijunjung tinggi.
27) Marx dan Brunno Giordani
baiklah saya mengunci introduksi yang tidak seberapa ini dengan
membandingkan nasib ajaran Marx dengan nasib ajaran Giordano Bruno, filsuf
Renaisans yang hidup di abad ke-16 itu. Seperti para saudara tentunya maklum,
karena Giordano Bruno tampil membela dan mengembangkan teori Kopernikus bahwa
bumilah yang mengelilingi matahari, sedangkan teori resmi gereka pada waktu itu
menyatakan sebaliknya, matahari yang mengelilingi bumi, dia dibakar hidup-hidup
oleh gereja. Bruno mati, tapi teorinya hidup terus. Semasa hidupnya Marx
dicerca, diejek, difitnah, dihina oleh seluruh dunia borjuis. Sekarang,
tujuhpuluh lima tahun sejak wafatnya Karl Marx, teorinya bukan saja hidup
terus, tetapi yang paling hidup diantara sekalian teori yang hidup.
__________
Copy Writter, Ceramah Kuliah Njoto di depan Universitas Rakyat, Jakarta 19 Desember 1985


Comments
Post a Comment