JEJAKLANGKAH, BUDAYA - Sosok Ken Dedes telah menjamur di mata masyarakat malang bahkan penjuru nusantara. Sosoknya yang dianggap memiliki paras yang cantik ini menjadi ikon Kota Malang, dan daerah Malang Raya sekitarnya. Putri yang diketahui tinggal di Panawijen dalam beberapa prasasti, yang kemudian erat kaitannya dengan sebuah daerah kelurahan yang bernama Polowijen Kota Malang mencuat namanya berbarengan dengan berdirinya Kerajaan Singosari, yang notabene pendiri dari kerajaan tersebut adalah suaminya sendiri.
Siapa yang kemudian tidak tahu kisah Ken Dedes, dalam
kitab Pararaton disebutkan bahwa Ken Dedes merupakan istri dari Raja Singosari yakni Sang Amurwabhumi atau populer dengan
nama Ken Arok. Banyak pihak menganggap Ken Dedes dikenal dengan arca cantik yakni
Prajnaparamitha ini diduga kuat berdasarkan identifikasi merupakan perwujudan
dari putri Ken Dedes.
Dalam Serat
Pararaton disebutkan Ken Dedes adalah penganut agama Buddha Tantrayana yang taat dan pandai ilmu agama sehingga pendapat
tersebut tidaklah terlalu berlebihan. Keterangan tersebut diperkuat bahwa
diketahui Ken Dedes merupakan putri dari Mpu Purwa, seorang Biksu Buddha aliran
Mahayana dari desa Panawijen.
Seperti yang telah diterangkan sebelumnya bahwa Ken
Dedes digambarkan sebagai perwujudan Dewi Prajnaparamita yang merupakan salah
satu Dewi dalam cerita Buddha yang memiliki ketaatan pada agama yang dianut.
Arca asli Dewi Prajnaparamita ditemukan di kompleks
Candi Singosari dan sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta, hal tersebut membuktikan
bahwa Malang merupakan pusat kerajaan besar di wilayah Jawa berdasarkan
keterangan Prasasti Mula-Malurung 1255 M.
Selain secara Prajnaparamita juga ditemukan pathirthaan (pemandian) yang kini
disebut sendang Ken Dedes di Singosari, juga terdapat situs di daerah Kelurahan
Polowijen (Ponowijan)Kota Malang. Daerah Polowijen, yang diduga kuat dulunya
bernawa Panawijan merupakan tempat tinggal seorang Biksu Buddha Tentrayana, yakni Mpu Purwa yang tak lain adalah orang tua
dari Ken Dedes.
Kecantikan
dan Pertautan Kekuasaan
Sosoknya yang dipandang sebagai hakikat wanita yang
memiliki keanggunan, mengundang ontroversi pada zamannya. Kelebihan tersebut
bisa menjadi dampak positif ketika Ken Dedes merupaka simbol putri yang
terkenal dan kecantikan Ken Dedes membuat beberapa orang berselisih untuk
memilikinya.
Dibalik paras kecantikan dari Ken Dedes ada sebuah
cerita pertautan kekuasan hingga meregang nyawa salah seorang. Ken Dedes yang
merupakan simbol wanita utama, wanita istimewa yakni Nareswari dalam Kitab Serat
Pararaton. Itulah sebabnya Ken Arok berusaha keras untuk menikahinya
meskipun harus mengorbankan banyak nyawa.
Ken Arok dan Tunggul Ametung, yang menjadi lakon
utama perebutan hati Ken Dedes. Tunggul Ametung yang merupakan Adipati dari
Tumapel, wilayah Kerajaan Kediri yang bertemu Ken Dedes langsung jatuh hati,
dan membawa Ken Dedes kabur ke keraton, tanpa seizin Mpu Purwa, Ayah Ken Dedes.
Ken arok kala itu menjadi abdi dalem Tunggul
Ametung, terpincut melihat keanggunan dan keistimawaan dalam diri Ken Dede
sehingga muncul hasrat untuk memiliki. Disinilah pertautan antara Tunggul
Ametung dan Ken Arok yang akhirnya, Tunggul Ametung terbunuh di suatu malam
oleh Ken Arok menggunakan keris Mpu Gandring.
Sementara itu ada juga versi yang menyatakan Ken
Dedes memiliki wahyu keprabon. Selain itu Ken Dedes adalah penganut Buddha yang
telah menguasai ilmu Karma Amamadang. Pemilik Ilmu Karma Amamadang ini
bertingkah laku sempurna, tanpa cela dan salah langkah.
Ibu
Pararaton: Lahirnya Raja-Raja di Jawa
Memiliki simbol wanita Nareswari, wanita yang utama
merupakan hakikan kesempurnaan tertinggi wanita dalam ajaran Buddha Tentrayana.
Tak hayal dari rahim seorang wanita nareswari nantinya akan memiliki potensi
untuk menjadi seorang pembesar kerajaan.
Dalam sejarah dicatat keturunan Ken Dedes yang
pernah menikah dua kali yakni dengan Tunggul Ametung dan Ken Arok.
Dari keturunan Tunggul Ametung jauh sampai ke
cucu-cicitnya mulai Anusapati, Ranggawuni, dan Kertanegara menjadi raja maupun
pembesar di Singosari. Sementara itu, melalui Ken Arok, Ken Dedes memberikan
keturunan hingga cicitnya menjadi orang-orang besar di Kerajaan Singosari
maupun Majapahit hingga Raden Wijaya.
Sampai digaris keturunan ke empat, terjadi penyatuan
antara keturunan Ken Dedes dari darah Ken Arok yaitu Raden Wijaya dengan
keturunan Ken Dedes dari darah Tunggul Ametung. Peristiwa ini diketahui dari pernikahan Raden Wijaya
dengan dua putri Kertanegara, Tribhuana Prameswari dan Gayatri Rajapatni yang
tercatat sebagai manusia-manusia tangguh dan besar yang di Kerajaan Singosari
dan Majapahit.
Sultan Trenggana Raja Kesultanan Demak juga merupakan
garis keturunan Ken Dedes. Raden Patah juga merupakan adalah putra Prabu Brawijaya,
yang tentunya masih dalam garis keturunan Raden Wijaya.
Ketika Demak digantikan Pajang yang diperintah
Sultan Hadiwijaya di mana Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir adalah anak Ki
Ageng Pengging yang juga keturunan Raden Patah yang masih satu gars keturunan
darah dari Ken Dedes.
Keturunan Ken Dedes juga diyakini tetap memerintah
di tanah Jawa karena hingga kini, Kasunanan Surakarta maupun Kesultanan
Yogyakarta merupakan keturunan Sutawijaya. Dari rahim Ken Dedes inilah telah menurunkan
raja-raja besar Singosari dan Majapahit, dinasti Rajasa.
Keturunan Ken Dedes yang
tercatat riwayatnya dan diabadikan dalam satu situs, antara lain pembesar
Kerajaan Singosari yakni Raja Anusapati (meninggal 1248 M dan sosoknya
dicandikan di Candi Kidal), Panji Tohjaya (meninggal 1250 M), Rangga Wuni
(Abhiseka Wisnuwardhana meninggal tahun 1270 M dan dicandikan di Candi Jago),
Mahesa Campaka (Bhatara Narasingamurti), serta Kertanegara (1254 M).
Duplikat patung Ken Dedes ditempatkan di sebelah
kiri pintu masuk Kota Malang, bertujuan agar para pendatang yang memasuki Kota
Malang mengetahui bahwa raja-raja besar di Jawa adalah keturunan orang Malang.
Dan Malang dulunya pernah menjadi pusat peradaban kerajaan yang ada di jawa
yakni Kerajaan Kanjuruhan dan Kerajaan Singosari.
___________
Sinergy Aditya Airlangga
Bachelor Public Adminstration - Brawijaya University
Journalist of Nusantara.news Media
+62 | sinergyadityaa@gmail.com
___________
Sinergy Aditya Airlangga
Bachelor Public Adminstration - Brawijaya University
Journalist of Nusantara.news Media
+62 | sinergyadityaa@gmail.com


Comments
Post a Comment